 |
 |
| Mimbar Ucapan |
| Selamat Menjalankan Ibadah Puasa. Semoga amal dan ibadah kita di bulan suci Ramadhan diterima Allah SWT. Amien! |
| Opini Centil |
| Aksi-aksi demo belakangan ini dapat dikatakan brutal dan mengerikan. Bagaimana tidak, pendemo yang katanya membela rakyat, justru menindas dan membikin rakyat resah. Lihat saja, ada aksi lempar batu, bom molotov, blokir jalan, jalan tol lagi, ngerusak pagar, cegat mobil, bakar mobil, mobil polisi pun tak luput jadi sasaran. Kalau begini caranya, mana ada yang simpati terhadap gerakan itu! |
| Opini Sehat |
| Jalanan di Jakarta kini semakin banyak polutan yang bisa merusak kesehatan, terutama saluran pernapasan. Bagi setiap kendaraan diharapkan perlu pengujian emisi agar tetap ramah terhadap lingkungan. Untuk pengendara kendaraan roda dua, jangan lupa tetap memakai masker. |
| Mimbar Wacana |
| Korupsi, termasuk suap saat ini semakin merajalela. Aparat penegak hukum pun tak luput dari genggaman makhluk ini. Makanya, korupsi perlu diberantas tuntas, kalau perlu dijadikan musuh bersama agar tidak merugikan bangsa. |
| Mimbar Redaksi |
| Untuk meningkatkan mutu berita opini di situs ini, redaksi menerima kritik dan saran yang membangun, kirim ke email : redaksi@mimbar-opini.com |
| Counter Pengunjung |
| Anda pengunjung ke-40049 |
|
|
 |
 |
|
| Perlukah KPU ke Luar Negeri ? | | Oleh redaksi |
| Minggu, 07-September-2008, 00:51:31 |
24 klik |
 |
 |
|
|
| Komisi Pemilihan Umum (KPU) kembali menjadi sorotan. Setelah molornya penetapan daftar pemilih sementara (DPS), kini KPU berencana memasyarakatkan tahapan pemilihan kepada para calon pemilih dan panitia pemungutan suara di 14 negara. |
|
|
Menurut Ketua Biro Keuangan Komisi Pemilihan Lukmansyah, sosialisasi sudah direncanakan. Dana diambil dari pos anggaran Komisi Pemilihan di Departemen Luar Negeri.
Terkait hal itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta KPU mengurangi jumlah negara yang dikunjungi. Sedangkan sejumlah anggota Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat menyarankan KPU menyelesaikan format surat suara dan mekanisme pemungutan suara sebelum memasyarakatkan Pemilihan Umum 2009 ke luar negeri.
Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, Ferry Mursyidan Baldan menilai penyelesaian format suara penting karena para pemilih di luar negeri sering mempertanyakan soal teknis pemungutan suara. Menurutnya, sia-sia KPU memasyarakatkan ke luar negeri tanpa rumusan format surat suara.
Anggota DPR dari Fraksi Keadilan Sejahtera, Jazuli Juwaini menyatakan, rencana kunjungan KPU memboroskan anggaran. Apalagi KPU memiliki anggaran yang minim persiapan. Sosialisasi tak perlu mendatangi negara lain karena bisa dikirim lewat dunia maya.
Anggota Fraksi Persatuan Pembangunan, Chozin Chumaedy, menilai KPU tidak tepat mengusulkan kunjungan tersebut.
Sementara itu, peneliti Cetro Refry Harun menilai, rencana KPU itu sudah jelas di luar fokus KPU. Refry mengatakan, masih banyak kinerja KPU yang buruk dan banyak sekali kegagalan KPU dalam cacth up jadwal yang ditetapkan sendiri. Sedangkan sosialisasi pemilu ke luar negeri hanya bersifat opsional.
Pengamat politik dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Stefanus Nindito MSi, berpendapat, jika anggota KPU pusat tetap nekat pergi ke luar negeri dengan alasan melakukan sosialisasi pemilihan umum, maka kepergian tersebut dapat diartikan sebagai aktualisasi diri yang kurang tepat.
Menurut Stefanus, yang juga dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UAJY, kepergian ke luar negeri tersebut mengandung unsur “wah”, sementara produktivitasnya masih dipertanyakan.
Rencana kunjungan KPU ke luar negeri tampak telah memunculkan kritikan dari berbagai kalangan. Sebab, hal penting yang justru harus dilakukan KPU saat ini adalah membangun sistem pemilihan yang komprehensif sehingga seluruh suara dan aspirasi masyarakat bisa tersalurkan. Jangan sampai fenomena Golput mengurangi legitimasi hasil Pemilu 2009.
Untuk masalah sosialisasi pemilu, KPU bisa menggunakan teknologi informasi yang sudah berkembang pesat saat ini. Karena itu, disarankan KPU bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri dan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Cara ini tentunya lebih efisien dibanding pergi ke luar negeri.
Rendy Kameswara
Perum Pojok Salak Blok 18 No. 27
Jonggol-Bogor
|
|
Komentar Anda >>
|
| Komentar |
| Belum ada komentar... |
| Opini Sebelumnya |
| Laut Kita Tetap Sebagai Pemersatu Bangsa |
| Minggu, 07-September-2008 |
Salah satu media nasional baru saja memaparkan berita yang agak mengejutkan ketika pemerintah, melalui Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi menyatakan, bahwa sedikitnya 6.702 pulau di Indonesia yang belum bernama. Lebih mengejutkan lagi, jumlah pulau yang dimiliki Indonesia tampaknya tidak sebanyak seperti yang selama ini didengung-dengungkan, yakni 17.508 buah.
|
| Tanaman Padi di Musim Kampanye |
| Sabtu, 06-September-2008 |
Pada musim kampanye saat ini, padi dijadikan komoditas politik. Isu gagal panen, gagal uji-coba verietas unggul, gagal swasembada beras begitu laris “dijual” oleh parpol-parpol peserta pemilu 2009 untuk meraih simpati publik. Mereka lupa bahwa mungkin mereka adalah bagian dari kegagalan itu, lalu saling menuduh, saling mencerca.
|
| Jangan Pilih Lagi Anggota DPR Yang Malas Hadiri Rapat |
| Jumat, 05-September-2008 |
Persidangan yang kosong melompong bukan pemandangan baru di Dewan Perwakilan Rakyat. Bahkan lebih parah lagi, rapat yang batal hanya karena tidak kuorum pun kerap kali terjadi di lembaga terhormat ini. Ada berbagai macam rapat di DPR yakni Rapat Paripurna, Rapat Komisi dan gabungan Komisi, Rapat gabungan Pimpinan DPR dengan Pimpinan Fraksi-Fraksi, rapat gabungan Pimpinan DPR, Pimpinan Fraksi-Fraksi dan Pemerintah, rapat Badan Musyawarah, rapat Badan Legislasi, rapat Panitia Anggaran, dan lain-lain.
|
| Masayarakat Semakin Muak Melihat Tingkah Anggota Dewan Terhormat |
| Kamis, 04-September-2008 |
Tingkah polah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terhormat terus saja mendapat sorotan tajam oleh masyarakat. Mulai dari sifat kekanak-kanakan, kasus suap, sampai pelecehan seksual. Sorotan tajam dari berbagai media massa masih saja tak membuat anggota dewan malu, apalagi sungkan kepada publik, terutama masyarakat yang diwakilinya.
|
| Usut Tuntas Kasus LNG Tangguh |
| Rabu, 03-September-2008 |
Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam, namun kekayaan itu belum bisa dinikmati rakyatnya. Selama ini sumberdaya alam yang melimpah itu banyak dinikmati oleh pihak asing karena kesalahan pengelolaan atau kontrak oleh pihak Indonesia. Salah satu contohnya dalam kasus LNG Tangguh, Indonesia sangat dirugikan hingga Rp 700 triliun. Oleh karena itu, kasus LNG tangguh harus diusut tuntas, agar kasus serupa tidak terulang lagi.
|
|
|
 |
 |
| Mimbar Sahabat |
| Kenalan yuk, namaku Rifa Irtafa. Aku tinggal di Perumahan Taman Yasmin, Kota Bogor. Hoby koresponden, baca dan menulis. Aku suka mengkritik apa saja yang tidak sesuai nuraniku dan kebenaran. Layangkan suratmu ke Emailku :irtafa@plasa.com. Aku tunggu sapamu, ok. |
|
 |
|
 |
 |
|