Login
Nickname:
Password:
  Registrasi?
Home
Mimbar Opini
Tentang Kami
Opini Centil
Satu persatu gembong pelaku terorisme ditangkap, baik hidup ataupun mati oleh aparat keamanan. Salut pada petugas, baik aparat intelijen, kepolisian, dan masyarakat yang telah mengendus aktivitas dan kegiatan terorisme sekaligus menangkap mereka. Oleh karena itu, jangan beri ruang terhadap para teroris agar tidak bisa bergerak.
Redaksi
Untuk meningkatkan mutu berita opini di situs ini, redaksi menerima kritik dan saran yang membangun, kirim ke email : redaksi@mimbar-opini.com
Counter Pengunjung
Anda pengunjung ke-71786
Opini / Ekonomi
Krisis Ekonomi Dunia
Oleh redaksi
Minggu, 12-Oktober-2008, 04:51:02 1504 klik Send this story to a friend Printable Version
PENGARUH krisis keuangan global terhadap ekonomi negara-negara di dunia dipastikan tak terhindarkan. Kondisi tersebut seolah melengkapi semakin tertekannya ekonomi dunia setelah bergejolaknya harga energi dan bahan pangan internasional. Perkiraan ekonomi dunia akan terperangkap dalam situasi ekonomi yang lesu kian menguat. Bahkan sejumlah pengamat menyoroti perlunya strategi penyelamatan ekonomi dunia dari keterpurukan yang dalam.

Oleh COKI AHMAD SYAHWIER

Sudah tentu saat ini setiap negara akan berusaha menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menyiasati kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Tidak terkecuali bagi Indonesia. Apalagi dinamika pertumbuhan ekonomi domestik sebenarnya belum berada pada performa yang terbaik. Setidaknya hal itu ditandai dengan pencapaian persentase pertumbuhan yang datar-datar saja.

Pada 2006, pertumbuhan ekonomi hanya mencapai 5,9% tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan di tahun 2005. Sedangkan pada 2007 pertumbuhan mencapai 6,1%. Namun, skenario pencapaian target pertumbuhan ekonomi 2008 yakni di kisaran 6,2%-6,3% tampaknya akan melewati tantangan berat. Faktor utama yang dapat menghadang target pertumbuhan tersebut di antaranya adalah tekanan inflasi.

Selama ini, fenomena gejala perubahan harga-harga tersebut memang sudah memperlihatkan kenaikan yang berarti. Pada Agustus 2008 saja inflasi sudah mencapai 0,5%. Sedangkan inflasi Januari-Agustus 2008 mencapai 9,4%. Inflasi dari Agustus 2007-Agustus 2008 diperkirakan sudah melampaui double digit inflation yakni 11,23%.

Dengan demikian, target inflasi 2008 sebesar 11,2%-12,2% diperkirakan akan meleset. Sebab tekanan inflasi diperkirakan akan datang dari maraknya pembelian di bulan September (Hari Raya Idulfitri) dan menjelang pergantian tahun 2008. Artinya, asumsi inflasi kurang kondusif bagi pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6,2%-6,3%.

Kenaikan laju inflasi sudah terasa manakala harga barang komoditi pertanian dan energi melesat sejak satu setengah tahun terakhir. Efek global warming turut menjadi biang berkurangnya pasokan komoditi pertanian. Belum lagi masing-masing negara sudah memasang ancang-ancang untuk menghemat bahan energi dan persediaan komoditi pertanian mereka. Kondisi ini tak pelak lagi membuat pasokan semakin berkurang yang terus memicu kenaikan harga pangan dan komoditi strategis lainnya.

Inilah realita riil ekonomi dunia yang melilit mainstream perekonomian di setiap negara. Laju pertumbuhan berpotensi menjadi lambat. Pertumbuhan sektor-sektor mengalami guncangan yang tidak diinginkan. Terlebih pasar komoditi dunia kian tertekan dengan semakin menguaknya krisis keuangan di Amerika Serikat.

Bagi Indonesia, krisis ekonomi AS berpotensi menyebabkan pasar ekspor terdistorsi. Sebab AS merupakan salah satu negara sebagai pasar tradisional bagi komoditas ekspor selama ini. Teru-tama ekspor komoditi nonmigas. Memang pemerintahan AS sudah menggelontorkan dana 700 miliar dolar AS ke pasar keuangan domestik untuk menyelamatkan ekonomi mereka. Namun proses pemulihan tentu memerlukan waktu yang panjang. Artinya pengaruh krisis ekonomi masih cukup lama dirasakan.

Untuk menyikapi kondisi krisis ekonomi dunia yang dipicu oleh krisis ekonomi di AS maka seyogianya Indonesia membuat langkah yang cepat dan strategis. Kalau tidak, ekonomi domestik akan berada dalam bayang-bayang krisis ekonomi dunia.

Pertumbuhan yang datar
Sejalan dengan perekonomian dunia yang kurang menggembirakan, hal yang sama dapat menimbulkan kerawanan kinerja pertumbuhan ekonomi kita. Kalau melihat pertumbuhan sektor-sektor ekonomi selama ini jelas pertumbuhannya datar-datar saja. Terdapat empat sektor pertumbuhan, yakni pengeluaran konsumsi (C), pengeluaran investasi (I), pengeluaran pemerintah (G), dan nilai bersih ekspor (NX) (lihat gambar).

Gambar tersebut memperlihatkan persentase pertumbuhan pengeluaran konsumsi pada triwulan I 2007 hingga trawulan II 2008 menurun dari 63,5% menjadi 60,3%. Hal ini menunjukkan bahwa pengeluaran rumah tangga masyarakat mengalami penurunan. Beberapa faktor penyebabnya diperkirakan berasal dari menurunnya pendapatan rumah tangga, melemahnya daya beli, bergesernya pola konsumsi tumah tangga, dan kenaikan harga-harga di luar ekspektasi rumah tangga. Kenaikan pengeluaran rumah tangga hanya terjadi pada triwulan IV 2007, itu pun disebabkan meningkatnya jumlah pembelian rumah tangga saat merayakan hari-hari besar agama dan pergantian tahun. Pada tahun ini kondisi tersebut diperkirakan juga mengalami hal yang sama.

Sementara itu, persentase pertumbuhan pengeluaran pemerintah menunjukkan peningkatan yang cukup berarti hingga triwulan IV 2007. Walaupun pada akhirnya turun pada triwulan I 2008 sebagai dampak berkurangnya penerimaan negara dari sektor migas dan meningkatnya pembiayaan subsidi bagi persediaan BBM dan listrik serta bahan energi lainnya.

Namun, pengeluaran pemerintah kembali bangkit pada triwulan II 2008 sebagai konsekuensi logis bagi pemenuhan kebutuhan pengadaan infrastruktur terutama sarana jalan, pembangunan pembangkit listrik, sarana eksplorasi gas dan panas bumi, perluasan pelabuhan laut, dan sarana produksi pertanian.

Perkembangan yang cukup menarik diperlihatkan persentase pertumbuhan pengeluaran investasi. Sejak triwulan I 2007 hingga triwulan II 2008, persentase pengeluaran investasi meningkat dari 23,3 persen hingga menjadi 26,0 persen. Meskipun sebenarnya potensi pertumbuhannya masih bisa ditingkatkan lagi.
Namun, hal tersebut mengisyaratkan bahwa iklim investasi mulai berubah menuju iklim yang berprospektif. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) benar-benar tumbuh sejalan dengan potensi pasar dalam negeri yang terus berkembang. Bahkan sejumlah negara sudah menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang menguntungkan.

Kondisi ini merupakan peluang yang sesungguhnya harus dikelola dengan baik. Sebab salah satu cara untuk memelihara agar pertumbuhan tetap berlanjut adalah dengan meningkatkan jumlah pengeluaran investasi terutama di sektor-sektor produksi nonmigas yang berpeluang diekspor. Tidak itu saja, pengeluaran investasi yang bertumbuh dapat mengurangi pengangguran terbuka dan menekan angka kemiskinan.
Kondisi persentase pertumbuhan sektor pengeluaran investasi jauh berbeda dengan persentase pertumbuhan sektor ekspor. Secara absolut boleh jadi nilai ekspor meningkat namun secara relatif tidak demikian. Suatu hal yang paradoks, persentase pertumbuhan nilai bersih ekspor mengalami pertumbuhan yang menurun tajam. Pada triwulan I 2007 pertumbuhan nilai bersih ekspor mencapai 5,1 persen. Namun terus merosot hingga mencapai 0,6 persen di triwulan II 2008. Diperkirakan merosotnya pertumbuhan nilai ekspor akibat menurunnya ekspor CPO kelapa sawit dan tergerus oleh meningkatnya impor BBM dari negara-negara pengeskpor BBM.

Kondisi melemahnya kinerja pertumbuhan nilai besih ekspor turut dipengaruhi makin maraknya jumlah komoditi yang didatangkan dari luar negeri. Banjirnya barang luar negeri di pasar domestik membuat produsen nasional mengendurkan volume produksi mereka. Inilah pekerjaan rumah terbesar dalam perekonomian nasional untuk dengan segera menyelamatkan produksi dalam negeri. Salah satu cara yang tepat adalah memperketat masuknya arus impor barang yang sebenarnya dapat diproduksi di dalam negeri. Sejalan dengan kebijakan tersebut adalah perlunya meningkatkan fasilitas subsidi bagi produksi dalam negeri dan mengurangi faktor-faktor penyebab terjadinya ekonomi biaya tinggi.

Agenda aksi
Krisis ekonomi dunia bukan berarti ekonomi dalam negeri juga harus memikul beban krisis yang kian berat. Tetapi pemerintah perlu membuat suatu agenda aksi darurat guna mengantisipasi perubahan terburuk akibat krisis yang melilit ekonomi dunia.
Agenda aksi pemerintah dapat diawali dari sektor fiskal melalui peningkatan subsidi dan pengurangan pajak bagi para produsen nasional, kemudian dilanjutkan dengan koordinasi dengan sektor moneter melalui program penguatan rupiah dan pengendalian jumlah uang beredar dengan Bank Indonesia.

Agenda aksi diikuti pula dengan penguatan tindakan sinergi antara departemen perdagangan dan perindustrian dalam menjamin pasokan barang-barang kebutuhan pokok masyarakat. Searah dengan agenda aksi ini adalah menjamin harga-harga tidak mengalami gejolak yang menekan tingkat kehidupan ekonomi masyarakat.

Hendaknya dapat dipahami perekonomian yang kuat dan terjamin keberlanjutannya diawali dari dasar pembangunan ekonomi masyarakat yang kuat dan bertumbuh.

Penulis, ekonom ISEI Bandung Koordinator Jabar dan seorang dosen.

Komentar Anda >>
Komentar
Belum ada komentar...
Diskusi
Posting Terbaru
. $$ Dicari Mitra Kerjasama(serius only)$$$
. Bagaimana Model Pengelolaan Kuskus Pulau Numf...
. Obat Tetes Mata Herba AINI
. PRIMA SETIA Efektif Mengatasi EJAKULASI DINI
. PRIMA SETIA Mengatasi EJAKULASI DINI
Respon Terbaru
. Bisnis Online Jadi Jutawan, Cocok Buat Awam, ...
. kritik membangun.
. BELAJAR ONLINE HARUSNYA LEBIH MURAH
. LOWONGAN KERJA : Dicari Perwakilan Unit Agen.
. Uang didapat tergantung kita mencarinya.
Iklan Baris
Iklan Terbaru
. transfer paper, mug sablon dig...
. jual alarm rumah murah bergara...
. Sewa Mobil Fleksibel Bisa 6 Ja...
. Hajatan Repot Kendaraan Hub TR...
. Bisnis Butuh Kendaraan Hub TRC
. BUDIDAYA JAMUR TIRAM - JUAL BI...
. Mau cari Baju Import, Model Ko...
. kaos family, kaos couple ,kaos...
. Bagaimana | www.mandiribisnis...
. kaos family, kaos couple, kaos...
Mimbar Sahabat
Kenalan yuk, namaku Betty Retno Triyuani. Aku tinggal di Ponorogo, Jawa Timur. Hoby koresponden, baca dan menulis. Aku suka mengkritik apa saja yang tidak sesuai nuraniku dan kebenaran. Layangkan suratmu ke Emailku :brtriyuani@plasa.com. Aku tunggu sapamu, ok.