 |
 |
| Opini Centil |
| Satu persatu gembong pelaku terorisme ditangkap, baik hidup ataupun mati oleh aparat keamanan. Salut pada petugas, baik aparat intelijen, kepolisian, dan masyarakat yang telah mengendus aktivitas dan kegiatan terorisme sekaligus menangkap mereka. Oleh karena itu, jangan beri ruang terhadap para teroris agar tidak bisa bergerak. |
| Redaksi |
| Untuk meningkatkan mutu berita opini di situs ini, redaksi menerima kritik dan saran yang membangun, kirim ke email : redaksi@mimbar-opini.com |
| Counter Pengunjung |
| Anda pengunjung ke-71903 |
|
|
 |
 |
|
| Opini /
IPTEK |
|
| Tingkatkan & Evaluasi Keamanan ATM | | Oleh redaksi |
| Senin, 25-Januari-2010, 08:16:54 |
325 klik |
 |
 |
|
|
| Bank tanpa ATM (anjungan tunai mandiri) mungkinkah? Mungkin saja. Tetapi bila bank ingin dipilih oleh nasabah, keberadaan mesin ATM menjadi keharusan. Konsumen (nasabah bank) kini memilih bank yang memiliki banyak ATM, ada di mana-mana, dan operasionalnya lancar. Artinya tidak pernah ngadat. |
|
|
Modernisasi pelayanan perbankan memiliki dua sisi yang berlawanan. Di satu sisi layanan perbankan yang siap melayani tuntutan transaksi any time, any where, any how dan tanpa batas wilayah selama 24 jam tujuh hari seminggu menjadi daya tarik perbankan. Dengan satu kartu ATM nasabah bisa tarik tunai, setor, beli pulsa, bayar pajak, bayar tagihan telepon, listrik, kartu kredit, dll. Fiturnya sangat nyaman bagi nasabah dan tidak perlu antre di bank berjam-jam.
Di sisi lain kecanggihan teknologi ATM belakangan ini tidak membuat nyaman nasabah karena seringnya terjadi pembobolan uang nasabah. Meski pihak bank sudah menyatakan teknologi ATM sudah nyaman, ternyata bisa dibobol hanya dengan skimming data, yaitu pencurian data nasabah yang tersimpan di dalam kartu dan pencurian atau pengintipan nomor identitas personal (PIN) di mesin ATM melalui kamera yang dipasang pembobol.
Kini 200-an nasabah melapor ke polisi yang menyatakan ATM-nya dibobol maling. Apalagi kejadiannya di daerah wisata semacam Kuta. Kerugiannya miliaran rupiah dan kini pelakunya sudah ada yang ditangkap (Bali Post, 23/1). Meski uang yang dibobol itu dikembalikan pihak bank, ribuan nasabah bank di Bali -- Indonesia -- kini waswas akan keselamatan uangnya.
Menurut laporan bank ke BI (Bank Indonesia) kerugian nasabah diperkirakan Rp 5 miliar dari empat bank yang ada. Agar tidak menodai kepercayaan masyarakat, Bank Indonesia memerintahkan bank mengganti kerugian nasabah segera setelah proses verifikasi kerugian dilakukan.
Pembobolan ATM nasabah bukan kali ini terjadi. Kebetulan saja saat ini jumlah korban maupun nilai yang dibobol cukup besar, sehingga cepat direspons penegak hukum, bank maupun BI.
Industri keuangan seringkali menjadi lahan yang empuk bagi pelaku kejahatan. Ada sebuah bank yang menurut mantan Wapres Jusuf Kalla ''dirampok'' oleh pemiliknya. Di luar itu, pelaku kejahatan yang dulunya merampok nasabah setelah membuntuti dari bank, kini dengan nyaman mereka bisa merampok uang nasabah lewat ATM. Ini mencerminkan ATM belum sepenuhnya aman. Jika terjadi lagi pembobolan, bank akan ditinggal nasabah. Mereka akan memilih bank mana yang dianggapnya paling aman.
Karena itulah kalangan perbankan secara nasional harus meningkatkan dan mengevaluasi keamanan ATM di tempat umum. Untuk mengantisipasi kejadian serupa khususnya masing-masing bank wajib mengevaluasi daya tahan keamanan yang diterapkan di perseroannya. Begitu juga nasabah harus tetap waspada dan sekali-sekali membaca brosur yang dikeluarkan bank bagaimana caranya menjaga keamanan PIN. Akibat kecerobohan bisa fatal, ATM dibobol.
Kita harus akui, kehadiran ATM telah mengubah fungsi kantor bank bersangkutan secara dramatis jika dilihat dari perspektif nasabah (konsumen). Keberadaan kantor pusat maupun cabang bank kini lebih sebagai faktor penguat psikologis bagi nasabah bahwa bank itu ada dan layak dipercaya. Sementara fungsi transaksi, sebisanya tidak antre di kantor bank. Cukup di mesin ATM semua urusan bisa beres.
ATM yang menjadi ujung tombak yang dibanggakan untuk melayani nasabah telah dicederai. Upaya pelayanan yang berorientasi pada konsumen terganggu.
Kasus pembobolan ATM ini hendaknya memberi hikmah kepada para bankir, nasabah, dan pemerintah (BI) selaku pengawas bank. Nasabah juga perlu berhati-hati dan awas, baik terhadap nasabah lain maupun terhadap kondisi di sekitarnya.
Adinda Maharani Kanaovi Siregar
Jl. Raya Pondok Gede No.88, Bekasi
Email: adinda_maharani_kanaovi@yahoo.com
|
|
Komentar Anda >>
|
| Komentar |
| Belum ada komentar... |
|
 |
 |
| Mimbar Sahabat |
| Kenalan yuk, namaku Betty Retno Triyuani. Aku tinggal di Ponorogo, Jawa Timur. Hoby koresponden, baca dan menulis. Aku suka mengkritik apa saja yang tidak sesuai nuraniku dan kebenaran. Layangkan suratmu ke Emailku :brtriyuani@plasa.com. Aku tunggu sapamu, ok. |
|
 |
|
 |
 |
|