 |
 |
| Opini Centil |
| Satu persatu gembong pelaku terorisme ditangkap, baik hidup ataupun mati oleh aparat keamanan. Salut pada petugas, baik aparat intelijen, kepolisian, dan masyarakat yang telah mengendus aktivitas dan kegiatan terorisme sekaligus menangkap mereka. Oleh karena itu, jangan beri ruang terhadap para teroris agar tidak bisa bergerak. |
| Redaksi |
| Untuk meningkatkan mutu berita opini di situs ini, redaksi menerima kritik dan saran yang membangun, kirim ke email : redaksi@mimbar-opini.com |
| Counter Pengunjung |
| Anda pengunjung ke-71903 |
|
|
 |
 |
|
| Opini /
Hankam |
|
| Laut Timor Milik Siapa? | | Oleh redaksi |
| Sabtu, 06-Maret-2010, 06:04:27 |
143 klik |
 |
 |
|
|
| Rasa pesimisme sebagian kalangan warga Indonesia kian membuncah akibat belum adanya sikap tegas dari pemerintah Indonesia untuk mendesak Australia bertanggung jawab atas tragedi meledaknya ladang minyak Montara. |
|
|
Ungkapan yang lebih lugas ditunggukan oleh Dosen Universitas Nusa Cendana Kupang Mia Noach yang mengatakan bahwa pemerintah RI harus lebih serius dalam menangani pencemaran Laut Timor pasca meledaknya ladang minyak Montara di Celah Timor milik Australia, karena akan mengancam biota laut di perairan Indonesia, termasuk rumput laut yang dibudidayakan secara besar-besaran di Rote Ndao Propinsi Nusa Tenggara Timur.
Jika diplomasi Presiden SBY dengan Perdana Menteri Australia Kevin Ruud yang diagendakan pada 8 Maret 2010 tidak ada hal hasil yang menguntungkan nelayan Rote dan sekitar pulau di Nusa Tenggara Timur, maka kehidupan ekonomi nelayan akan terpuruk dan timbul ketidak puasan terhadap kebijakan pemerintah pusat.
Sesungguhnya, Laut Timor yang kaya akan sumberdaya alam, baik sumberdaya alam di wilayah darat maupun di wilayah laut, sejak lama menjadi rebutan oleh negara lain. Tingkat kepentingan dan ketertarikan yang tinggi atas kawasan Laut Timor dan letaknya yang strategis, menimbulkan invasi Austrlia atas kepentingan sumber minyak dan gas bumi di Celah Timor.
Secara taktis Australia mendukung integrasi Timor Timur ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia guna memperkuat klaim Australia atas sebagian besar wilayah Laut Timor yang diperoleh dari Indonesia pada tahun 1972.
Pasca terlepasnya Timor Timur dari NKRI, penguasaan kawasan Laut Timor menjadi milik tiga negara ( Indonesia, Australia dan Timor Timur), namun kenyataannya yang paling banyak menikmati seluruh kekayaan sumberdaya alam di Celah Timor adalah Australia. Saat ini, pemerintah Timor Timur masih memperjuangkan hak ekonominya atas pengelolaan Celah Timor, sedangkan Indonesia hanya menerima limbahnya.
Indonesia harus lebih berani mendesak Australia, tentang perlunya melakukan perjanjian ulang atas pengelolaan hak sumber daya alam di Laut Timor. Kalau tidak, Indonesia hanya jadi penonton.
Widyawati, SH
Jl. Rawa Sari Barat, Cempaka Putih
Jakarta Pusat
Widya1983@yahoo.com |
|
Komentar Anda >>
|
| Komentar |
| Belum ada komentar... |
|
 |
 |
| Mimbar Sahabat |
| Kenalan yuk, namaku Betty Retno Triyuani. Aku tinggal di Ponorogo, Jawa Timur. Hoby koresponden, baca dan menulis. Aku suka mengkritik apa saja yang tidak sesuai nuraniku dan kebenaran. Layangkan suratmu ke Emailku :brtriyuani@plasa.com. Aku tunggu sapamu, ok. |
|
 |
|
 |
 |
|